Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bumi Hijrah

Just another Universitas Bumi Hijrah Maluku Utara site
Uncategorized

MEDIA DAN KAJIAN BUDAYA

MEDIA DAN KAJIAN BUDAYA

OLEH : MARYANI YUSUF, S.Sos, M.Si

Pada mata kuliah media dan kajian budaya, salah satu topik yang dibahas adalah budaya siber  atau cyberculture pada media baru. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat luar biasa menciptkaan sebuah budaya baru dalam komunikasi manusia. Budaya baru karena tidak ada dimasa lalu, atau baru dalam artian sebagai hasil evolusi kebudayaan itu sendiri. Beberapa penafsiran kebudayaan memberikan argumentasi bahwa kebudayaan baru tercipta karena proses globalisasi yang ditengarai oleh kecanggihan teknologi dan penguasaan media global (internet) sehingga memudahkan interaksi antarmanusia sejagat raya.

Perkembangan teknologi, terlebih yang berbasis komunikasi dan informasi, turut serta mempengaruhi kebudayaan manusia sebagai pengguna teknologi. Marshal McLuhan (1962) memberikan argumentasinya melalui konsep Determinism Technology. McLuhan meyakini alur perubahan teknologi turut serta mempengaruhi peradaban penggunanya. Artinya, manusia disetiap era berprilaku adaptif dengan teknologi yang digunakan. Maka dari itu, McLuhan merefleksikan bahwa teknologi turut andil besar dalam membentuk koloni manusia baru, atau disebutnya sebagai The Monoculture, yaitu manusia dalam satu planet bumi ini bertindak, berbudaya, berpengetahuan, dan berkomunikasi serupa. Menurutnya, apa yang tersaji di dapur orang indonesia, dapat dijumpai di dapur-dapur keluarga Amerika, Jepang, Inggris, Kanada, Turki, China, atau Selandia Baru.

Pembentukan budaya baru di tengah masyarakat oleh internet sebagai media baru juga berupa, keterlibatan warga dalam diskusi publik serta sikap kritis warga untuk menyuarakan kepentingan umum sekaligus sebagai pengawas dari proses demokrasi yang dijalankan oleh pemerintah. Teknologi internet memberikan ruang baru bagi warga, memfasilitasi ruang komunikasi, dan pada akhirnya bisa digunakan oleh warga untuk turut menyatakan pendapat mereka. Inilah kultur yang sangat berbeda sekali dibandingkan dengan kehidupan berdemokrasi di dunia nyata. Masyarakat Maluku Utara ikut berdebat dan berdiskusi dalam group-group komunitas virtual dalam pemilihan Gubernur Maluku Utara 2018. Seperti Group Maluku Utara Memilih, Sahabat AGK, Team Work  Bur-Jadi,  dan Teman AHM. Para pendukung paslon tidak perlu lagi berkomunikasi pada waktu, tempat yang sama. Hambatan – hambatan yang ada terdahulu seperti jarak, waktu, biaya, serta kesulitan lainnya dapat teratasi. Hal ini dikarenakan internet sebagai media komunikasi siber tidak terbatas ruangnya sehingga pengguna sebagai pendukung paslon dapat menyampaikan informasi kemana saja, kapan saja dan ke siapa saja.  Komunikasi di internet memungkinkan para penggunanya berkomunikasi dari tempat yang berbeda.  Pengguna dan perangkat yang terhubung di internet, memeliki peran dalam memproduksi sekaligus mereproduksi budaya.

Manuel Castells (2004) menyatakan bahwa  dalam masyarakat jejaring (network society) sebuah budaya bisa saja muncul dan dimaknai ulang berdasarkan interaksi antar pengguna di internet. Konsep ini juga menjelaskan bahwa asal pengguna dari dunia nyata yang sama maupun tidak sama secara geografis serta perangkat yang digunakanpun sama, interkasi yang terjadi serta teknologi menyebabkan dunia siber memiliki budaya tersendiri. Misalnya, bahasa yang digunakan di internet tanda-tandanya tidak bisa diartikan secara semantik bersifat linear atau sama dengan yang berlaku di dunia nyata.

Apakah Cyberculture itu ?

Budaya siber (Cyberculture) muncul dalam di ruang siber (maya) serta media siber. Dalam  pandangan makro budaya siber yang terbentuk melibatkan segala aspek termasuk politik. Budaya pada dasarnya merupakan nilai-nilai yang muncul dari proses interkasi antar individu, nilai-nilai ini diakui, baik secara langsung maupun tidak, seiring dengan waktu yang dilalui dalam interaksi tersebut. Bahkan terkadang sebuah nilai tersebut di dalam alam bawah sadar individu dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Nasrullah, (2017:117) mendefenisikan budaya siber sebagai :

 “Praktik sosial maupun nilai-nilai dari komunikasi dan interaksi antar pengguna yang muncul diruang siber dari hubungan antara manusia dan teknologi maupun antarmanusia dengan perantara teknologi. Budaya itu diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi melalui jaringan internet serta jaringan yang terbentuk diantara para pengguna”.

             Nilai-nilai ini diakui, baik secara langsung maupun tidak, seiring dengan waktu yang dilalui dalam interaksi tersebut. Juan Carlos Jemines (2008) menjelaskan beberapa tipe nilai :

  1. Nilai personal atau pribadi yang merupakan asumsi sebagai dasar dalam melakukan tindakan etis.
  2. Nilai keluarga adalah nilai yang muncul; dari unit terkecil masyarakat.
  3. Nilai material terkait bagaimana pandangan terhadap materi yang menempatkan materi atau komoditas atau produk sebagai kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup.
  4. Nilai spiritual yang berasal dari kitab suci agama. Nilai spiritual bisa juga mengacu pada kebenaran, kejujuran, kebaikan, keindahan, dan sebagainya.
  5. Nilai moral merupakan standar terhadap sesuatu yang baik atau jahat. Standar itulah yang kemudian mengatur pilihan prilaku individu yang bisa disebut sebagai moral.

Selain memproduksi nilai, menurut Hine (2000:39-40) untuk mempelajari budaya di internet, maka perlu di lihat apa saja konten yang digunakan oleh pengguna dalam menyatakan sikap, nilai-nilai maupun informasi dan pengetahuan. Konten dalam ruang siber menurut Hine adalah artefak budaya (cultural artefac). Pendekatan ini melihat  Internet  sebagai  produk budaya: teknologi yang dihasilkan oleh orang-orang tertentu dengan tujuan dan prioritas kontekstual. Ini juga merupakan teknologi yang dibentuk oleh cara-cara yang dipasarkan, diajarkan dan digunakan. Untuk berbicara tentang Internet sebagai artefak budaya adalah untuk menunjukkan bahwa itu bisa saja sebaliknya, dan bahwa apa itu dan apa yang dilakukannya adalah produk dari pemahaman yang dihasilkan budaya yang dapat bervariasi. (Hine, 2000:39)

Menurut Jenkins (2006) dalam era budaya di dunia siber memunculkan participatory Culture atau budaya partisipan, budaya partisipan ini dimaknai sebagai khalayak pengguna internet yang aktif berpartisipasi dalam mengkreasi dan melakukan sirkulasi terhadap konten baru. (Dalam Journal Participatory Culture  and the New Governance of Communication: The Paradox of Participatory Media). Pada dasarnya, artefak budaya berupa konten dalam ruang siber merupakan komoditas yang di produksi sekaligus dikonsumsi oleh pengguna. Konten bisa berbentuk teks tertulis, foto, video, suara, dan sebagainya yang disebarkan di ruang siber. Artefak baru dapat muncul dari hasil interaksi komunikasi para pengguna di dunia maya (siber).

Karena itu, sebagai pengguna media baru marilah kita bijak dalam memilih dan memproduksi konten. Sebab kata, kalimat, foto, suara, video, dan lainnya yang kita posting, aploud dan update, memiliki nilai-nilai yang dikonsumsi atau bahkan diwariskan ke generasi berikutnya. Salam Komunikasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *