Jakarta Destinasi Utama Wisata Halal Indonesia, 500 Hotel Telah Disertifikasi

Jakarta menjadi destinasi wisata halal utama yang terus dikembangkan oleh pemerintah. Apa saja keunggulannya?

Dijelaskan Menparekraf Sandiaga Uno bahwa lembaganya telah menandatangani nota kesepahaman dengan Masjid Istiqlal. Lainnya, di ibu kota telah ada lebih dari 500 yang telah disertifikasi terkait syarat wisata halal.

“Kemenparekraf pun menjalin kerja sama dengan Masjid Istiqlal yang tertuang dalam MoU untuk mengembangkannya sebagai destinasi religi di Indonesia,” kata Sandiaga, dalam WPB, Senin (20/6/2022).

“Pemilihan Jakarta tak bisa dilepaskan dari lengkapnya fasilitas ramah muslim. Setidaknya ada 510 hotel dengan sertifikat halal dan 5 hotel tipe syariah di Jakarta,” terang dia.

Pariwisata halal di Indonesia berhasil naik peringkat pada posisi kedua setelah Malaysia dalam The Global Muslim Travel (GMTI) 2022.

Kemenparekraf terus berupaya untuk melakukan kerjasama dengan Arab Saudi agar bisa membuka pasar wisata halal di sana. Itu mengingat masyarakat Indonesia banyak sekali yang ke sana untuk melakukan perjalanan Ibadah Haji atau Umrah.

“Ada pula pengembangan desa wisata yang memiliki concern dengan wisata religi. Salah satunya Desa Wisata Kubah Basirih yang berlokasi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan,” kata Sandiaga.

“Di sini ada potensi wisata ziarah yang sangat besar, tapi masih ada beberapa hal perlu diperbaiki dan ditingkatkan untuk lebih berkualitas,” terang dia.

Adapun strategi yang dibentuk pemerintah bukan lagi mengedepankan kuantitas. Length of stay dan spending yang lebih besar juga diincar oleh pemerintah.

Wisata halal fokus pada layanan tambahan yang disediakan oleh pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif agar bisa sesuai dengan kategori halal, meliputi:

– Need to Have, seperti layanan makanan halal

– Good to Have, seperti toilet yang user friendly bagi muslim dan Muslimah

– Nice to Have, seperti fasilitas rekreasi yang musleim dan family friendly.

Kata dia, pemerintah telah mempersiapkan dan mempromosikan informasi layanan tambahan pariwisata halal di lima destinasi super prioritas. Salah satunya melalui peluncuran e book pariwisata ramah muslim.

“Wisata halal bukan berarti islamisasi wisata atraksi, melainkan memberikan layanan tambahan yang terkait dengan fasilitas, turis, atraksi, dan aksesibilitas untuk memenuhi pengalaman dan kebutuhan para wisatawan muslim,” terang Sandiaga.

“Selain itu, kita harus menciptakan peluang-peluang usaha berbasis halal tourism. Ada beberapa destinasi (wisata) yang kita unggulkan seperti Aceh, Sumatra Barat, Jawa Barat, Lombok, Kalimantan Selatan, dan Madura yang ingin mengembangkan destinasi pariwisata halalnya untuk menciptakan banyak lapangan kerja dengan beberapa kegiatan yang mampu membangkitkan ekonomi dari segmen wisata halal ini,” kata dia.